PRO KONTRA HUKUM ROKOK dialog imajener kiai & santri
PRO KONTRA HUKUM ROKOK
(Dialog Imajener Kiai & Santri – sebagian dialog nyata)
Subhan Nurdin
SEASON 1 : Rokok di Pesantren
SN : Pa Kiai, bagaimana hukum merokok sebenarnya ?
KH : Kamu merokok ? Kalau merokok di pesantren dilarang, tapi bukan haram.
SN : Kok bisa begitu ?! saya bertanya hukum rokok menurut pandangan Islam, Pa Kiai.
KH : Oh, tadinya saya jawab seperti itu karena kamu memang santri di pesantren ini. Peraturan di Pesantren ini kan santri dilarang merokok di lingkungan sekolah, setiap santri harus taat peraturan Pesantren. Kalau menurut hukum Islam kamu mesti mengaji dalil-dalil dan cara menetapkan hukum dalam berijtihad, sehingga kamu tidak salah menentukan hukum dan membuat orang lain jadi sesat dunia akhirat.
SN : Mengapa sampai sejauh itu ? rokok kan masalah sepele, masa hanya karena sebatang rokok urusannya sampai akhirat ?!
KH: Yang jadi masalah bukan rokoknya, tapi menetapkan hukum rokok mengatasnamakan Allah dan Rosul-Nya. Itulah makanya kamu harus banyak belajar tentang hukum Islam dari dalil-dalil yang benar dan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Kamu kan sudah belajar tafsir surat al-Fatihah, siapa yang dimaksud AL-MAGHDHUB dan AD-DLOLIN.
SN : Al-Maghdlub itu artinya yang dimurkai yaitu kaum Yahudi karena mereka berilmu tanpa amal dan Ad-dholin artinya yang sesat yaitu Nasroni karena mereka beramal tanpa ilmu. Bukan begitu Kiai ?!
KH: Benar ! namun yang harus kamu fahami, surat Al-Fatihah itu bukan untuk Yahudi & Nasroni saja tetapi bagi umat Islam dan seluruh manusia, sehingga pesan ayat tersebut supaya kamu jangan seperti kaum Yahudi & Nasroni yang tidak mengamalkan hukum Allah atau mengamalkan hukum selain hukum Allah. Dalam hadis pun dijelaskan bagaimana kaum Bani Isroil itu dihancurkan karena mereka menyalahi hukum Allah dan menentang para Nabi. Para ulama mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan.
SN: Ya, saya mengerti sekarang, bisa jadi muslim tapi berwatak yahudi atau nasroni yang sesat dan menyesatkan, sehingga pantas Allah menempatkan mereka di neraka.
KH: Bagus, sekarang tolong belikan dulu rokok di warung sebelah.
SN: @#$*(^!???? (:-(
SEASON 2: Rokok di Radio
SN: Kata ustadz Syaz waktu pengajian di Radio OK, rokok itu haram, mengapa Kiai tidak sependapat dengan ustadz itu ?
KH: Ah, mungkin ustadz itu tidak sadar, honor dia ngisi di radio itu ada dari iklan rokok. Jadi secara tidak langsung dia juga merokok, he…he…. Kamu tau alasan dia mengharamkan rokok?
SN : alasannya banyak dan panjang Pa Kiai.
KH: Saya tidak menanyakan alasan kesehatan, kalau ustadz ya mesti alasan dalil dari Al-Qur’an dan hadits.
SN: Mungkin Pa Kiai juga sudah tau, kalau dari al-Quran dalilnya WALAA TULQU BIAYDIKUM ILA TAHLUKAH dan INNAL MUBADZIRINA KANU IKHWANAS SYAYATIN.
KH: Kamu kan sebelumnya ingin tau hukum sebenarnya tentang rokok, sekarang kita ngaji bareng, coba ambilkan Kitab Tafsirnya.
SN: Baiklah.
KH: Coba buka Tafsir Jalalain ini pada surat Al-Baqoroh ayat 195, apa arti tahlukah disana?
SN: Oh, ternyata ayat ini berhubungan dengan infaq fi sabilillah. Dan At-Tahlukah itu ialah mereka yang menahan hartanya untuk diinfaqkan fi sabilillah alias kikir.
KH: Ada tidak kata Sagayir atau dukhon (bahasa arab rokok) dalam tafsir itu ?
SN: Sama sekali tidak ada Pa Kiai.
KH: Coba buka lagi tafsir lainnya. Yang di rak sebelah ada tafsir Ibnu Katsir. Kalau Surat Al-Baqoroh mungkin di jilid satu.
SN: hmmm, sama saja Pa Kiai, tidak ada lafad rokok atau arti yang mengarah pada dilarang merokok. Malah di sini dijelaskan, orang yang berdosa dan tidak bertobat juga orang yang bakhil hakikatnya mereka menjerumuskan dirinya pada kehancuran di akhirat.
KH: Jadi, kalau memakai dalil ini untuk melarang rokok dari mana asalnya?! Mungkin, rokoknya juga baru masyhur setelah turun ayat ini. Bahkan menurut saya, ayat ini lebih tepat bagi mereka yang berani-beraninya menentukan hukum rokok haram, karena mereka telah menafsirkan al-Qur’an sekehendak pikirannya yang picik.
SN: Ya Pa Kiai, dalam istilah ilmu tafsir disebut tafsir bir ro’yi, dan Rasulullah SAW mengecamnya sebagai penghuni neraka. Na’udzubillah.
KH: Sekarang coba cari tafsir tentang mubadzir !
SN: Tabdzir itu ialah menggunakan harta bukan untuk taat kepada Allah atau menggunakannya dalam maksiat dan bukan pada haknya. Ternyata hampir sama dengan ayat sebelumnya.
KH: Menurut kamu, merokok itu termasuk kepada mubadzir.
SN: Yaaa, nggak tau. Tapi kata ustaz itu, merokok itu sama dengan membakar uang. Sayang kan uang dibakar.
KH: Ha ha ha, kalau begitu kompor juga haram. Dan kalau rokoknya ngelinting sendiri, tidak beli pakai uang, jadi halal, gitu ?!
SN: Bener juga, jadi dalil-dalil itu bukan untuk hukum merokok ?
KH: Memang, justeru sebaliknya, yaitu bagi mereka yang menghabiskan energi untuk mempertahankan hukum selain hukum Allah. Jangankan ustaz, Rasul sendiri ditegur oleh Allah ketika berani mengharamkan minum madu.
SN: Bagaimana bisa begitu?
KH: Kisahnya ada dalam tafsir surat At-Tahrim ayat satu, Coba kamu baca tentang Asbabun Nuzul ayat itu !
SN: Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, ia berkata: “Adalah Rasulullah SAW menyukai manisan dan madu. Jika selesai shalat Ashar, beliau kembali pada istri-istrinya. Suatu hari beliau bersama Zainab binti Jahsy dan meminum madu di sisinya. Aku dan Hafshah bersepakat, siapapun diantara kami yang didatangi Nabi SAW agar mengatakan kepadanya: “aku mencium bau maghafir, apakah engkau makan buah maghafir?” (buah yang manis tetapi baunya tidak enak) Beliau menjawab: “Tidak, tapi aku sudah minum madu di rumah Zainab binti Jahsy. Dan aku bersumpah tidak akan meminumnya lagi. Jangan kamu beritahukan kepada seorangpun.” Maka turunlah ayat ini.
KH: Jadi, Rasulullah SAW sendiri dalam urusan menetapkan hukum tidak bisa, apalagi kita.
SN: Pa Kiai, Kasus ini mirip seperti ustaz yang mengharamkan rokok. Mungkinkah mereka belum membaca kisah ini?
KH: Ya, sama seperti ketika Rasulullah SAW juga sudah tahu bahwa yang diharamkan itu sudah jelas, namun karena ingin mendapat simpati dari istri-istrinya akhirnya mengharamkan apa yang Allah halalkan, tetapi Nabi itu ma’shum, Allah langsung mengingatkannya. Nah, kalau ustaz, siapa yang berani memperingatkan, diperingatkan juga, balik mendebat, kecuali atas kesadarannya sendiri.
SN: saya berani Pa Kiai !
SEASON 3 : Rokok di Masjid
SN: Assalamu’alaikum
KH: Wa’alaikum salam warohmatulloh, darimana kamu?
SN: dari masjid kampus ada diskusi tentang remaja dan narkoba.
KH: kamu ikut dari awal sampai selesai ?
SN: Oh, saya ikut setelah sepuluh menit dimulai, soalnya ada larangan merokok di tembok masjidnya. Tanggung, kalau dibuang mubadzir.
KH: Dasar santri kalong! Pembicaranya siapa aja ?
SN: ada tiga orang, dari agamawan, medis dan praktisi psikologi remaja. Maaf Pa Kiai, sebelum ngobrol lebih jauh tentang diskusi tadi, saya jadi penasaran, kok di masjid ditempel “dilarang merokok” kalau di pom bensin itu masuk akal.
KH: Kenapa kamu tidak tanyakan ke DKM nya langsung.
SN: Ya, Insya Allah nanti saya tanyakan, tapi menurut Pa Kiai sendiri hukumnya bagaimana?
KH: Mungkin mereka hanya ikut-ikutan Rumah Sakit karena asap rokok membahayakan pasien. Masjid juga kan fungsinya untuk kesehatan rohani. Tapi harusnya asapnya juga asap gaib, seperti “dilarang bakar kemenyan”. Ada juga yang menempel larangan itu karena menganggap rokok itu makruh sama dengan bawang putih.
SN: Memangnya bawang putih itu makruh?
KH: Memang ada haditsnya, nanti kamu teliti lagi matan dan sanadnya dan jangan lupa baca syarahnya, karena banyak yang memakai dalil hadits tapi syarahnya sekehendak dewek, jadi ngawur, sama kayak tafsir bir ro’yi yang kemarin. Namun kalau dalam hadits ancamannya di kasih kursi.
SN: enak dong, dapat kursi seperti anggota dewan ?
KH: bukaaan, tapi kursi dari api neraka ! mau ???
SN: Na’udzubillah !
KH: Sepengetahuan saya, hadits itu menyuruh kita untuk membersihkan diri dari bau yang tidak sedap ketika hendak shalat berjama’ah di masjid, karena akan mengganggu jama’ah lain.
SN: Oh, jadi yang dilarang itu mengganggu jama’ah shalat, bukan larangan makan bawang putih.
KH: Ya, Jangankan dengan bau yang tidak sedap, ngaji qur’an dengan suara keras saja ketika ada yang shalat dilarang.
SN: Lalu, mengapa rokok disamakan dengan bawang putih, padahal menurut saya bau rokok itu enak,
KH: Makanya yang namanya hukum itu harus pasti, hitam putih. Kalau masih mungkin atau relatif ya dikembalikan ke hukum asalnya.
SN: hukum asal bagaimana?
KH: Misalnya, bawang putih tadi, hukum asalnya dalam urusan makanan itu mubah kecuali ada dalil yang mengharamkan. Nah, jika sudah tau hukum asalnya baru kemudian diqiyaskan, itupun tidak sembarangan, harus memenuhi syarat-syarat qiyas yang benar, sama illat hukumnya dan syarat-syarat lainnya.
SN: Memang qiyas rokok dengan bawangputih itu salah?
KH: tidak juga, kalau diqiyaskannya bahwa keduanya sama-sama makanan yang hukum asalnya boleh. Tapi kalau alasannya karena baunya, kurang tepat, yang lebih tepat diqiyaskan dengan pete atau jengkol. Adapun qiyas yang berhubungan dengan hukum masjid alasannya ialah mengganggu orang yang shalat itu yang jelas. Menurut kamu yang mengganggu kekhusyuan shalat apa saja selain ngaji qur’an tadi ?
SN: banyak sekali, tidak hanya bau-bauan, gambar dan suara gaduh juga bisa mengganggu. Kalau begitu, tulisan “Dilarang Merokok” juga bisa jadi makruh jika mengganggu shalat kita.
KH: Ternyata kamu cerdas juga !
SEASON 4: Rokok di Rumah Sakit
SN: Pa Kiai, menurut penelitian katanya delapan puluh persen pecandu narkoba itu adalah perokok dan sekitar dua setengah juta orang pertahun meninggal akibat rokok. Pa Kiai, nggak takut ?
KH: Kamu sendiri merokok dari sejak kapan?
SN: baru dua bulanan ini
KH: Oo, sejak kamu merokok pernah sakit nggak ?
SN: Alhamdulillah, nggak
KH: Kalau kamu percaya survey tadi, harusnya kamu sudah jadi almarhum he…he…Kamu kan baca di bungkus rokok, kadar nikotin dan tar setiap batang rokok, juga ada peringatan bahaya merokok. Coba hitung sendiri.
SN: Ya, jadi survey itu tidak sepenuhnya benar, kalau menurut Pa Kiai, bahaya rokok bagi kesehatan kita bagaimana ?
KH: yang lebih tahu mah ya dokter. Kalau saya hanya dari pengalaman hidup saja dan hasil baca-baca.
SN: Pa Kiai merokoknya sejak kapan?
KH: Alhamdulillah sudah lima puluh tahunan.
SN: Masya Allah, kok bertentangan sekali dengan hasil survey tadi. Katanya, bisa mengganggu janin, Pa Kiai punya banyak anak dan cucu. Ya.
KH: Ya, makanya jangan mudah percaya pada berita juga kata orang, sebelum kamu sendiri benar-benar yakin. Urusan mati itu rahasia Allah. Kalau manusia mereka-reka urusan kematian sama dengan menyaingi hak Allah, musyrik hukumnya. Dan mati itu bukan penyakit, karena setiap penyakit, kata Rasul pasti ada obatnya. Hasil survey itu tidak semua benar. Justeru sebaliknya, teman-teman saya yang tidak merokok sudah pada meninggal, saya yang merokok Alhamdulillah masih sehat wal afiyat, he…he…
SN: Kalau hasil survey pecandu narkoba itu bagaimana pa Kiai?
KH: Itu mah tidak ada hubungannya dengan hukum merokok. Apa karena ganja dihisap, rokok hukumnya jadi sama dengan ganja. Kalau mikirnya seperti itu, diinfus pake jarum suntik juga jadi haram.
SN: Katanya sih karena kecanduannya
KH: Narkoba itu dilarang karena sama dengan khamer yaitu mengganggu akal pikiran, bukan karena bisa menyebabkan kecanduan. Kalau karena kecanduannya bisa-bisa minum kopi juga jadi haram.
SN: bener juga, makan nasi juga bisa jadi haram, ya…
KH: Yang namanya makanan atau minuman bisa berdampak pada tubuh kita. Makanya Islam memberikan batasan jangan berlebih-lebihan. Asal halal dan tidak berlebih-lebihan, Insya Allah tidak akan membahayakan, tapi tetap kalau ajalnya sudah tiba, tidak seorangpun bisa menghindar dari kematian.
SN: Memang bener kata pa Kiai, ada ayah temen saya sudah keluar masuk rumah sakit, tapi sampai sekarang masih hidup, tapi ada juga yang tidak punya penyakit apa-apa, tiba-tiba meninggal. Kalau Pa Kiai, sehari berapa batang rokok ?
KH: Alhamdulillah tiga bungkus.
SN: Waaah
SEASON 5 : Rokok di Televisi
SN: Pa Kiai lihat acara dakwah di tv tadi sore nggak?
KH: Ya, kebetulan nonton.
SN: Menurut ustadz di tv tadi perokok itu kurang perhatian terhadap ilmu, buktinya menurut survey salah satu media cetak, setiap tahun jika dirata-ratakan, orang menghabiskan dana untuk membeli buku hanya 2 juta rupiah saja, sedangkan untuk membeli rokok sampai 2 milyard lebih.
KH: kamu salah paham, ustadz tadi kan lagi menjelaskan penghargaan kita terhadap ilmu dan membaca buku sangat minim, bukan perokok itu kurang perhatian pada ilmu.
SN: Oh ya, maaf pa kiai, soalnya memang ustadz tadi anti rokok sampai memberi contoh juga sama rokok.
KH: hati-hati kalau menilai orang, jangan asal ngomong, bisa termasuk ghibah itu!
SN: Memang kenyataannya begitu, Pa Kiai. buktinya di pesantrennya, papan “Dilarang Merokok” ada dimana-mana.
KH: Tapi itu bukan berarti dia mengharamkan rokok kan?!
SN: ya sih, tapi ustadz itu juga mestinya tidak asal ngomong, jangan menjaga hati melulu, tapi lisannya nggak dijaga. Kenapa pa Kiai menganggap ucapan saya termasuk ghibah?
KH: arti ghibah menurut hadis kan DZIKRUKA AKHOKA BIMA YAKROHU atau ngomongin orang sesama muslim tentang sesuatu yang bikin dia tidak enak. Kalau benar, itu namanya ghibah, kalau tidak sesuai, itu namanya menuduh. Kedua-duanya termasuk haram, karena sama dengan memakan daging saudara sendiri. Makanya, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
SN: kalau tujuannya amar ma’ruf nahyi munkar bagaimana pa kiai?
KH: itu juga ada etikanya, dengan lemahlembut, hikmah dan penyampaian yang baik, tidak memvonis dan ghibah atau mengghibahkan orang yang ghibah.
SN: maksudnya mengghibahkan orang yang ghibah itu bagaimana ?
KH: ya maling teriak maling. Misalnya si-A itu dikenal suka bikin gossip, terus diomongin lagi oleh si-B bahwa si-A tukang gossip, pan jadi pusing tah…
SN: jadi sebaiknya bagaimana Pa Kiai?
KH: Semestinya setiap informasi itu jangan langsung diyakini kebenarannya tapi harus tabayyun atau klarifikasi dengan yang bersangkutan. Apalagi jika berita itu datang dari orang fasiq dan ahli maksiat. Kalau dari Allah dan benar-benar shahih dari Rasulullah SAW barulah kita harus SAMI’NA WA ATHO’NA.
SN: Kalau tanggapan pa Kiai pada contoh ustadz di tv itu bagaimana?
KH: Oooh, itu kan baik, menganjurkan kita agar lebih mengutamakan ilmu dan mengaji juga membaca buku.
SN: Bukan masalah itunya, saya kurang sependapat dengan perbandingan dana untuk membeli rokok.
KH: Kenapa? Kamu tersinggung sebagai perokok ?
SN: ngggg, sedikit, tapi sepertinya perokok itu terkesan negatif, makanya saya menyimpulkan seperti tadi, Pa Kiai.
KH: Kalau saya yang jadi ustadz di tv yang disaksikan jutaan penonton, akan membandingkannya bukan dengan rokok, tapi dengan kitab kuning.
SN: Bagaimana Pa Kiai… kalau baca kitab kuning kan santri disini juga diwajibkan karena sumber ilmu.
KH: bukan kitab kuning itu! Tapi bacaan cabul kayak Pleyboi itu…
SN: Oooo, ya saya kira lebih tepat yang itu, kalau dengan rokok mah kurang nyambung.
KH: Ya, coba saja bandingkan orang membeli majalah agama yang hanya puluhanribu saja kadang berat, tapi majalah porno yang harganya ratusanribu saling berebut.
SN: Tapi tidak mencontohkan seperti pa Kiai, bukan berarti ustadz itu pro majalah porno kan, seperti ketika dia menganggap jelek orang yang merokok, ya Pa Kiai?!
KH: Makanya kalau kamu jadi ustadz nanti, mesti ekstra hati-hati kalau berdakwah apalagi di hadapan khalayak ramai. Pernah dengar pepatah arab LAISA KULLU MA YU’LAMU YUQOLU, FAINNA KULLA MAQOMIN MAQOLUN
SN: Maksudnya bagaimana Pa Kiai ?
KH: artinya “Tidak semua yang kamu ketahui harus diucapkan, karena setiap kondisi memiliki ungkapan yang tepat.” Sama seperti sabda Rasulullah SAW: “Serulah orang itu sesuai dengan kadar pemahamannya.” Makanya Jagalah hati dan lidahmu !
SN: Insya Allah Pa Kiai…
SEASON 6: Rokok di Terminal
KH: Tumben, kamu nggak merokok?
SN: ini kan terminal Ciputat, Pa Kiai, bisa-bisa saya didenda limapuluh juta.
KH: Oh, ternyata kamu takut juga, ya
SN: bukan masalah takut, Pa Kiai, larangan ini kan sama kayak dilarang merokok di pesantren. He..he.. Eh Pa Kiai, kenapa sih pemerintah bikin aturan larangan merokok di tempat umum? pakai sangsi berat lagi. Limapuluh juta kan bisa buat bikin pabrik rokok.
KH: Ya…sama kayak di pesantren diberi sangsi digunduli, ha..ha..
SN: Pa Kiai bisa aja. Mungkin karena asap rokok lebih berbahaya bagi perokok pasif.
KH: Ya mungkin. Tapi kalau di Singapura, disamping larangan merokok di tempat umum itu dibuatkan juga “smoking area” buat yang ingin merokok.
SN: Kalau di sini seperti “dilarang buang sampah” tapi tong sampahnya kaga disediain. Bikin bingung juga. Pa Kiai, katanya merokok di tempat umum sama dengan mendzalimi orang lain, bagaimana sebenarnya?
KH: Dzalim itu kebalikan dari adil, kalau dalam istilah syar’i, dzalim itu menempatkan sesuatu bukan pada haknya. Makanya syirik termasuk dzalim yang terbesar karena orang musyrik itu menempatkan selain Allah untuk disembah dan ditaati. Kalau urusan asap rokok dihisap bukan oleh perokoknya yang berbuat dzalim itu siapa, coba pikirkan?!
SN: mmmm
KH: Pusing kan?!
SN: Berarti pas juga anekdot temen saya Pa Kiai
KH: Anekdot apaan ?
SN: Ceritanya, di angkot ada wanita hamil berpakaian mini menegur seorang yang lagi merokok, “Mas, maaf ya rokoknya matikan dulu, mengganggu janin saya” si abang tadi melirik wanita itu dan balas menjawab: “Bu maaf ya, dadanya ditutup, janin saya juga terganggu.” He.. he..
KH: Husss, ngeres kamu, ntar kena undang-undang anti pornografi pornoaksi lagi
SN: harusnya yang dijerat undang-undang APP itu tv dan majalah porno Pa Kiai
KH: Yah, makanya pemimpin itu harus dekat dengan ulama. Kamu sudah tau kisah khalifah yang otoriter?
SN: belum,
KH: Dulu ada khalifah yang suka memaksakan pendapatnya. Menurut keyakinannya, al-Qur’an itu makhluq dan mereka yang tidak sependapat dengannya akan dipancung. Sampai terdengar ke telinganya, seorang ulama ahlussunnah, Ibnu Abi Du’ad. Maka dibawalah ke hadapan khalifah untuk langsung dipancung.
SN: wah kejam sekali, di kita kasus seperti ini paling berat dikurung satu dua tahunan.
KH: Ibnu Abi Du’ad ketika berada di tangan algojo minta bicara untuk terakhir kali. Khalifah pun mengizinkannya. Ternyata ia menanyakan; “Apakah keyakinan Al-Qur’an adalah makhluq itu pernah diajarkan oleh Rasululah SAW, Umar, dan khulafaurrasyidun lainnya?” Tentulah jawabannya: Sama sekali tidak pernah dan merekapun tidak memaksakan keyakinan seperti itu kepada umatnya. Singkat cerita khalifah itu menyadari kekhilafannya dan tidak pernah lagi memaksakan pendapatnya.
SN: Siapa nama khalifah tadi Pa Kiai
KH: Al-Watsiq Billah, ia dari Bani Umayyah
SN: Ya Pa Kiai semestinya para pemimpin itu seperti Al-Watsiq, mendengar pandangan ulama yang berpegang teguh pada al-Qur’an & hadits shahih seperti Ibnu Abi Du’ad tadi..
KH: yang lebih penting lagi harus tabayyun pada setiap informasi dan jangan taqlid buta.
SN: Taqlid buta bagaimana ?
KH: ikut-ikutan tanpa tau dasar hukumnya atau beramal tanpa ilmu yang benar. Taqlid ini biasanya disebabkan kultus individu atau fanatik pada satu aliran sehingga mustahil salah. Kamu juga jangan merokok karena saya merokok. Atau membenci yang tidak merokok karena tidak merokok seperti kamu. Nanti bisa jadi muqollid yang melarang taqlid. Ngerti ?
SN: Siaaap Pa Kiai.
SEASON 7: Rokok di Arab
SN: Pa Kiai, temen saya menegur saya ketika merokok, katanya rokok itu haram karena termasuk khamer kering dan racun. Gimana Pa Kiai ?
KH: Temen kamu yang mana ?
SN: itu yang berjenggot, pakai kacamata dan suka pakai kopiah haji.
KH: Ooh, yang kemarin ikut shalat berjama’ah dzuhur di masjid ?
SN: Ya, dia pernah kuliah di Madinah
KH: Trus kamu jawab ?
SN: Wah, saya nggak sanggup Pa Kiai.
KH: Kenapa ?!
SN: ilmu agamanya kan pasti hebat, Pa Kiai
KH: Coba saja diskusi sama dia, tapi bukan berdebat. Kamu kan masih ragu tentang hukum rokok itu, dan dia punya dalil lain sehingga berpendapat haram.
SN: Insya Alloh Pa Kiai, tapi kalau argumen dia yang lebih kuat bagaimana Pa Kiai
KH: Ya kamu harus taslim
SN: taslim bagaimana ?
KH: mengakui bahwa rokok itu hukumnya haram dan kamu harus berhenti merokok.
SN: Walah, berat juga ya…
KH: Itu kan konsekuensi kalau alasan dia lebih kuat. Nah, kalau alasan kamu yang lebih kuat berarti dia harus meralat pendapatnya. Makanya kamu siapkan dulu dalil dan argumennya.
SN: mmmm, saya kan ngaji sama Pa Kiai, jadi argumennya juga dari Pa Kiai, ya…?!
KH: ya boleh lah,
SN: Alhamdulillah, Pa Kiai, kenapa Pa Kiai sangat antusias menolak yang mengharamkan rokok sih?
KH: Kamu belum tau, saya dulu juga seperti mereka, malah kalau ada yang merokok di depan saya, langsung saya ambil rokoknya, saya injak injak di depan matanya sambil menasihatinya.
SN: Oh begitu, lalu kenapa berubah total Pa Kiai ?
KH: Ya, dulu memang saya taqlid sama Kiai Sepuh, kalau kata dia haram, semua santri harus Sumuhun dawuh. Kiai Sepuh juga pernah lama tinggal di Mekah, saat itu saya menganggap kalau yang dari Arab itu pasti Islam dan mustahil salah.
SN: Jadi Pa Kiai juga pernah pakai baju gombrang dan sorban, Ya ?
KH: Ya ia lah, karena pakaian seperti itu dianggap sunah rosul, malah kalau pakai celana panjang yang menutup tumit seperti kamu ini masuk neraka karena dianggap isbal.
SN: isbal itu apa Pa Kiai ?
KH: melabuhkan pakaian, orang yang isbal disebut musbil, dalam hadis diancam masuk neraka.
SN: Wah ngeri juga, masuk neraka karena salah pakai celana.
KH: Itu kan dulu, ternyata hadits tentang isbal itu cukup banyak dan ada yang menyebutkan isbal dengan niat Khuyala yaitu sombong seperti pakaian para raja yang menyapu tanah. Jadi yang dilarang itu berlaku sombong dengan pakaiannya, bukan menutup tumitnya.
SN:Bener Pa Kiai, masa ahli surga itu hanya yang pake gamis saja, kan Abu Jahal juga berjenggot dan pake gamis. lagian, bisa jadi orang tidak isbal tapi sombong, seperti sekarang orang kaya itu lagi ngetrend pake celana pendek.
KH: Yang jadi pikiran saya dan akhirnya menyadarkan saya setelah membaca kisah sahabat yang salah memberi fatwa.
SN: fatwa tentang apa Pa Kiai ?
KH: Ada sahabat yang luka di kepalanya, kebetulan ia mimpi janabat dan harus mandi, lalu minta fatwa kepada sahabat lainnya, bolehkah ia bertayammum, sahabat itu memfatwakan tetap harus mandi karena masih bisa menggunakan air, ia-pun mandi dan akhirnya ia meninggal. Kejadian ini disampaikan kepada Rasulullah, maka beliaupun marah dan menegur pemberi fatwa tadi, “mereka telah membunuh orang itu, Allah melaknat mereka. Mengapa mereka tidak bertanya dulu jika belum tau! karena obat dari kebodohan itu ialah bertanya.”
SN: Sebentar Pa Kiai, sahabat tadi juga kan bertanya dulu kepada sahabat lain.
KH: Ya, tapi yang disuruh oleh Nabi untuk bertanya itu orang yang menjawabnya, karena ia belum tau jawaban sebenarnya sudah berfatwa seperti itu. Artinya, jika kita ragu tentang satu masalah, apalagi dalam urusan ibadah, jangan dulu diamalkan atau difatwakan, tapi tanyakan dulu kepada ahlinya, karena jika salah fatwa, resikonya sama dengan mendzalimi orang lain dan mendapat laknat dari Allah dan Rasul-Nya. Juga jangan asal bertanya, lihat dulu konsistensinya pada al-Qur’an dan hadis shohih.
SN: berat juga jadi ulama itu ya…
KH: Ya, tapi pahalanya juga sangat besar. Yang harus kamu camkan adalah berhati-hati dalam berpikir dan bertindak. Ingat kisah Imam Malik yang diminta fatwa tentang empat puluh masalah ?
SN: mmm, ya, beliau memang hebat Pa Kiai. walaupun sudah menjadi tokoh ulama besar, tapi yang dijawab hanya tiga masalah dan beliau tidak gengsi menjawab “tidak tau” untuk masalah lainnya.
KH: Yang lebih berat lagi bagi ulama ialah keikhlasan menerima hujjah yang sebelumnya dia bantah habis-habisan. Saya rasakan sendiri, tapi alhamdulillah, Allah memberi kemudahan jalan untuk melunakkan kekerasan hati saya, setelah menerima surat teman saya saat itu yang kuliah di Universitas al-Azhar, Mesir.
SN: Apa isi suratnya Pa Kiai?
KH: dia cerita tentang kuliah di Al-Azhar itu cukup berat, harus hafal Qur’an 30 juz, nalar hadis lengkap dengan rowinya, de el el. dia juga cerita tentang dosen tafsirnya yang buta matanya.
SN: Wah, hebat Pa Kiai, berarti tafsirnya juga hafal di luar kepala.
KH: Yang menarik itu, kalau ia mengajar sambil merokok.
SN: Ah masa ??? kalau Kiai Sepuh lihat mungkin sudah di kerangkeng, he..he..
KH: Itulah, akhirnya saya bertanya-tanya dalam hati, ternyata tidak semua ulama berpendapat rokok itu haram. Saya jadi penasaran dan membuka kitab-kitab fiqh yang ada, sambil mencoba rokok kiriman temen saya tadi.
SN: Oooh begitu. rokok apa itu Pa Kiai
KH: Kaliyubadro, itu rokok putih, kata temen saya ada lagi rokok mesir yang namanya Syisa. hisapnya pake selang dan pake air di botol kaca, tembakonya dibakar pake areng, rasanya macem-macem, ada rasa jeruk, apel…
SN: masa ada rokok rasa apel ?!
KH: Baru tau ya, makanya jangan kuper. Kalo merokok syisa rasa apel, ruangan ini kaya pake farfum. kaya orang dulu suka mengasapi badan dan pakaiannya dengan rempah-rempah agar harum. Makanya jangan nuduh jelek melulu sama yang merokok. Dosen tafsir yang buta tadi jadi inspirasi buat saya, ternyata walaupun mata lahirnya buta tapi mata hatinya selalu terbuka untuk kebenaran…
SN: mmmmm, sebentar Pa Kiai (sambil beranjak dari kursi)
KH: Mau kemana kamu ?
SN: bikinin kopi sekalian beli rokok dulu buat Pa Kiai
KH: es en…. es en …
http://ashifnet.tripod.com
PUASA RAMADHAN & HADITS DLA’IF
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ *
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang sengaja mendustakan aku, maka bersedialah untuk menerima azab api Neraka *(Hadits Mutawatir)
I. HADITS-HADITS DLA’IF & MAUDLU’ (PALSU)
1. KHUTBAH DI AKHIR SYA’BAN
صحيح ابن خزيمة ج: 3 ص: 191
8 باب فضائل شهر رمضان إن صح الخبر 1887 ثنا علي بن حجر السعدي ثنا يوسف بن زياد ثنا همام بن يحيى عن علي بن زيد بن جدعان عن سعيد بن المسيب عن سلمان قال خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في آخر يوم من شعبان فقال ثم أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك شهر فيه ليلة خير من ألف شهر جعل الله صيامه فريضة وقيام ليله تطوعا من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ومن أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه وهو شهر الصبر والصبر ثوابه الجنة وشهر المواساة وشهر يزداد فيه رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره ان ينتقص من أجره شيء قالوا ليس كلنا نجد ما يفطر الصائم فقال يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة أو شربة ماء أو مذقة لبن وهو شهر أوله رحمة واوسطه مغفرة وآخره عتق من النار من خفف عن مملوكه غفر الله له واعتقه من النار واستكثروا فيه من أربع خصال خصلتين ترضون بهما ربكم وخصلتين لا غنى بكم عنهما فأما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم فشهادة أن لا إله إلا الله وتستغفرونه وأما اللتان لاغنى بكم عنها فتسألون الله الجنة وتعوذون به من النار ومن أشبع فيه صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة
Penjelasan :
“Hadits” ini terdapat dalam kitab ‘Al-Dhu’afa, Ibnu ‘Adiy; Ad-Dailamy; Tarikh Baghdad, Al-Khatib, Ibnu Asakir dan Shahih Ibnu Khuzaimah.
Kecacatan hadits :
1. Ada rawi Ali Bin Zeid bin Jud’an, menurut Yahya Bin Ma’in LAISA BI HUJJAH (tidak dapat dijadikan hujjah) dan menurut Abu Zur’ah LAISA BI QOWY (tidak kuat)
2. Sallam Bin Sawwar menurut Ibnu ‘Ady MUNKARUL HADITS (haditsnya ditolak)
3. Maslamah Bin al-Shalt menurut Al-Albany ia MATRUK (tertuduh dusta)
(Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, Prof.KH. Ali Mustafa Yaqub, MA (AMY)
مسند الحارث(زوائدالهيثمي) ج: 1 ص: 412
321 حدثنا عبد الله بن بكر حدثني بعض أصحابنا رجل يقال له إياس رفع الحديث الى سعيد بن المسيب عن قال ثم خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم آخر يوم من شعبان فقال يا أيها الناس انه قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة خير من ألف شهر فرض الله صيامه وجعل قيام ليله تطوعا فمن تطوع فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فما سواه ومن أدى فيه فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة وهو شهر الصبر والصبر ثوابه الجنة وهو شهر المواساة وهو شهر يزاد رزق المؤمن فيه من فطر صائما كان له عتق رقبة ومغفرة لذنوبه قيل يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم قال يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن أو تمرة أو شربة ماء ومن اشبع صائما كان له مغفرة لذنوبه وسقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة وكان له مثل أجره أن ينقص من أجره شيئا وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار ومن خفف عن مملوكه فيه أعتقه الله من النار قلت ويأتي حديث في فضل الصوم في صوم التطوع
الترغيب والترهيب ج: 2 ص: 57
1483 وعن سلمان رضي الله عنه قال خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في آخر يوم من شعبان قال يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم مبارك شهر فيه ليلة خير من ألف شهر شهر جعل الله صيامه فريضة وقيام ليله تطوعا من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ومن أدى فريضة فيه كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه وهو شهر الصبر والصبر ثوابه الجنة وشهر المواساة وشهر يزاد في رزق المؤمن فيه من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره أن ينقص من أجره شيء قالوا يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة أو على شربة ماء أو مذقة لبن وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار من خفف عن مملوكه فيه غفر الله له وأعتقه من النار واستكثروا فيه من أربع خصال خصلتين ترضون بهما ربكم وخصلتين لا غناء بكم عنهما فأما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم فشهادة أن لا إله إلا الله وتستغفرونه وأما الخصلتان اللتان لا غناء بكم عنهما فتسألون الله الجنة وتعوذون به من النار ومن سقى صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة رواه ابن خزيمة في صحيحه ثم قال صح الخبر ورواه من طريق البيهقي ورواه أبو الشيخ ابن حبان في الثواب باختصار عنهما
لسان الميزان ج: 6 ص: 33
135 مسلمة بن الصلت عن النضر بن معبد قال أبو حاتم متروك الحديث انتهى وأورد بن عدي في ترجمة سلام بن سليمان من طريقه عن مسلمة بن الصلت عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة رضي الله عنه رفعه قال شهر رمضان أوله رحمة وأوسطه مغفرة وأخره عتق من النار قال مسلمة ليس بالمعروف وقال الأزدي ضعيف الحديث ليس بحجة وذكره بن حبان في الثقات فقال روى عنه أحمد بن حنبل ورأيت له حديثا بنو رواه أبو الحسن علي بن نجيح العلاف حدثنا أحمد بن القاسم الرشيدي حدثنا محمد بن صالح ثنا مسلمة بن الصلت السناني حدثني أبو عمر مطرف صاحب ديوان أمير المؤمنين أبي جعفر قال حدثني المهدي عن أبيه عن بن عباس رضي الله عنهما قال آخر أربعاء الشهر يوم نحس مستمر
إعانة الطالبين ج: 2 ص: 255
روي عن رضي الله عنه قال خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في آخر يوم من شعبان فقال أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم شهر مبارك فيه ليلة القدر خير من ألف شهر جعل الله تعالى صيامه فريضة وقيام ليله تطوعا من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ومن أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه وهو شهر الصبر والصبر ثوابه الجنة وهو شهر المواساة وهو شهر يزاد فيه رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان له عتق رقبة ومغفرة لذنوبه قلنا يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر به الصائم قال يعطي الله هذا الثواب من يفطر صائما على مذقة لبن أو شربة ماء أو تمرة ومن أشبع صائما كان له مغفرة لذنوبه وسقاه ربه من حوضي شربة لا يظمأ بعدها أبدا وكان له مثل أجره أن ينقص من أجره شيء وهو شهر أوله رحمة وأوسطه مغفرة وآخره عتق من النار ومن خفف عن مملوكه فيه أعتقه الله من النار فاستكثروا فيه من أربع خصال خصلتين ترضون بهما ربكم وخصلتين لا غنى لكم عنهما أما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم فشهادة أن لا إله إلا الله وتستغفرونه وأما الخصلتان اللتان لا غنى لكم عنهما تسألون ربكم الجنة تتعوذون به من النار
2. SHALAT TARAWIH 20 RAKA’AT
الأحاديث المختارة ج: 3 ص: 367
1161 أخبرنا أبو عبدالله محمود بن أحمد بن عبدالرحمن الثقفي بأصبهان أن سعيد بن أبي الرجاء الصيرفي أخبرهم قراءة عليه أنا عبدالواحد بن أحمد البقال أنا عبيدالله بن يعقوب بن إسحاق أنا جدي إسحاق بن إبراهيم بن محمد بن جميل أنا أحمد بن منيع أنا الحسن بن موسى نا أبو جعفر الرازي عن الربيع بن أنس عن أبي العالية عن أبي بن كعب أن عمر أمر أبيا أن يصلي بالناس في رمضان فقال إن الناس يصومون النهار ولا يحسنون أن يقرؤا 1 فلو قرأت القرآن عليهم بالليل فقال يا أمير المؤمنين هذا شيء 2 لم يكن فقال قد علمت ولكنه أحسن فصلى بهم عشرين ركعة إسناده حسن
سنن الترمذي ج: 3 ص: 169
81 باب ما جاء في قيام شهر رمضان 806 حدثنا هناد حدثنا محمد بن الفضيل عن داود بن أبي هند عن الوليد بن عبد الرحمن الجرشي عن جبير بن نفير عن أبي ذر قال ثم صمنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم يصل بنا حتى بقي سبع من الشهر فقام بنا حتى ذهب ثلث الليل ثم لم يقم بنا في السادسة وقام بنا في الخامسة حتى ذهب شطر الليل فقلنا له يا رسول الله لو نفلتنا بقية ليلتنا هذه فقال إنه من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة ثم لم يصل بنا حتى بقي ثلاث من الشهر وصلى بنا في الثالثة ودعا أهله ونساءه فقام بنا حتى تخوفنا الفلاح قلت له وما الفلاح قال السحور قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح واختلف أهل العلم في قيام رمضان فرأى بعضهم أن يصلي إحدى وأربعين ركعة مع الوتر وهو قول أهل المدينة والعمل على هذا عندهم بالمدينة وأكثر أهل العلم على ما روي عن عمر وعلي وغيرهما من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم عشرين ركعة وهو قول الثوري وابن المبارك والشافعي وقال الشافعي وهكذا أدركت ببلدنا بمكة يصلون عشرين ركعة وقال أحمد روي في هذا ألوان ولم يقض فيه بشيء وقال إسحاق بل نختار إحدى وأربعين ركعة على ما روي عن أبي بن كعب واختار بن المبارك وأحمد وإسحاق الصلاة مع الإمام في شهر رمضان واختار الشافعي أن يصلي الرجل وحده إذا كان قارئا وفي الباب عن عائشة والنعمان بن بشير وابن عباس
مجمع الزوائد ج: 3 ص: 172
وعن ابن عباس قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر رواه الطبراني في الكبير والأوسط وفيه أبو شيبة إبراهيم وهو ضعيف وعن زيد بن وهب قال كان عبد الله بن مسعود يصلي بنا في شهر رمضان فننصرف بليل رواه الطبراني في الكبير ورجاله رجال الصحيح وعن جابر قال صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج إلينا فلم يزل فيه حتى أصبحنا ثم دخلنا فقلنا يا رسول الله اجتمعنا في المسجد ورجونا أن تصلي بنا قال إني خشيت أو كرهت أن يكتب عليكم رواه أبو يعلى والطبراني في الصغير وفيه عيسى بن جارية وثقه ابن حبان وغيره وضعفه ابن معين
سنن البيهقي الكبرى ج: 2 ص: 496
4395 وأنبأ أبو زكريا بن أبي إسحاق أنبأ أبو عبد الله محمد بن يعقوب ثنا محمد بن عبد الوهاب أنبأ جعفر بن عون أنبأ أبو الخصيب قال ثم كان يؤمنا سويد بن غفله في رمضان فيصلي خمس ترويحات عشرين ركعة وروينا عن شتير بن شكل وكان من أصحاب علي رضي الله عنه أنه كان يؤمهم في شهر رمضان بعشرين ركعة ويوتر بثلاث
سنن البيهقي الكبرى ج: 2 ص: 497
4397 وأما التراويح ففيما أنبأ أبو عبد الله بن فنجويه الدينوري ثنا أحمد بن محمد بن إسحاق بن عيسى السني أنبأ أحمد بن عبد الله البزاز ثنا سعدان بن يزيد ثنا الحكم بن مروان السلمي أنبأ أبو الحسن بن علي بن صالح عن أبي سعد البقال عن أبي الحسناء ثم أن علي بن أبي طالب أمر رجلا أن يصلي بالناس خمس ترويحات عشرين ركعة وفي هذا الإسناد ضعف والله أعلم
مصنف ابن أبي شيبة ج: 2 ص: 163
676 كم يصلي في رمضان من ركعة 7680 حدثنا أبو بكر قال ثنا وكيع عن سفيان عن أبي إسحاق عن عبد الله بن قيس عن شتير بن شكل أنه كان يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر 7681 حدثنا وكيع عن حسن بن صالح عن عمرو بن قيس عن ابن أبي الحسناء أن عليا أمر رجلا يصلي بهم في رمضان عشرين ركعة 7682 حدثنا وكيع عن مالك بن أنس عن يحيى بن سعيد أن عمر بن الخطاب أمر رجلا يصلي بهم عشرين ركعة 7683 حدثنا وكيع عن نافع بن عمر قال كان ابن أبي مليكة يصلي بنا في رمضان عشرين ركعة ويقرأ بسورة الملائكة 1 في ركعة 7684 حدثنا حميد بن عبد الرحمن عن حسن عن عبد العزيز بن رفيع قال كان أبي بن كعب يصلي بالناس في رمضان بالمدينة عشرين ركعة ويوتر بثلاث 7685 حدثنا أبو معاوية عن حجاج عن إبي إسحاق عن الحارث أنه كان يؤم الناس في رمضان بالليل بعشرين ركعة ويوتر بثلاث ويقنت قبل الركوع 7686 حدثنا غندر عن شعبة عن خلف عن ربيع وأثنى عليه خيرا عن أبي البختري أنه كان يصلي خمس ترويحات في رمضان ويوتر بثلاث 7687 حدثنا حفص عن الحسن بن عبيد الله قال كان عبد الرحمن بن الأسود يصلي بنا في رمضان أربعين ركعة ويوتر بسبع 7688 حدثنا ابن نمير عن عبد الملك عن عطاء قال أدركت الناس وهم يصلون ثلاثة وعشرين ركعة
7691 حدثنا محمد بن فضيل عن وقاء قال كان سعيد بن جبير يؤمنا في رمضان فيصلي بنا عشرين ليلة ست ترويحات فإذا كان العشر الآخر اعتكف في المسجد وصلى بنا سبع ترويحات 7692 حدثنا يزيد بن هارون قال انا إبراهيم بن عثمان عن الحكم عن مقسم عن ابن عباس إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر
المعجم الأوسط ج: 1 ص: 243
798 حدثنا أحمد بن يحيى الحلواني قال حدثنا علي بن الجعد قال حدثنا أبو شيبة إبراهيم بن عثمان عن الحكم بن عتيبة عن مقسم عن بن عباس ثم أن النبي كان يصلي في رمضان عشرين ركعة سوى الوتر
المعجم الأوسط ج: 5 ص: 324
5440 حدثنا محمد بن جعفر الرازي قال حدثنا علي بن الجعد قال حدثنا ابو شيبة ابراهيم بن عثمان عن الحكم عن مقسم عن ابن عباس قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر
مسند عبد بن حميد ج: 1 ص: 218
653 حدثني أبو نعيم قال حدثني أبو شيبة عن الحكم عن مقسم عن بن عباس قال ثم كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة ويوتر بثلاث
المعجم الكبير ج: 11 ص: 393
12102 حدثنا محمد بن جعفر الرازي ثنا علي بن الجعد ثنا أبو شيبة إبراهيم بن عثمان عن الحكم عن مقسم عن بن عباس قال ثم كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر
فتح الباري ج: 4 ص: 254
وأما ما رواه بن أبي شيبة من حديث بن عباس كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر فإسناده ضعيف وقد عارضه حديث عائشة هذا الذي في الصحيحين مع كونها أعلم بحال النبي صلى الله عليه وسلم ليلا من غيرها والله أعلم
التمهيد لابن عبد البر ج: 8 ص: 115
وقد روى مالك عن يزيد بن رومان قال كان الناس يقومون في زمن عمر بن الخطاب في رمضان 3 بثلاث وعشرين ركعة وقد روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر إلا أنه حديث يدور على أبي شيبة إبراهيم بن عثمان جد بني أبي شيبة وليس بالقوي حدثنا سعيد بن نصر حدثنا قاسم بن أصبغ حدثنا محمد بن وضاح حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا يزيد بن هارون قال أخبرنا إبراهيم بن عثمان عن الحكم عن مقسم 2 عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر 4 وعن علي رضي الله عنه أنه أمر رجلا يصلي بهم في رمضان عشرين ركعة وهذا أيضا سوى الوتر
شرح الزرقاني ج: 1 ص: 334
وأما عدد ما صلى ففي حديث ضعيف عن ابن عباس أنه صلى عشرين ركعة والوتر أخرجه ابن أبي شيبة وروى ابن حبان عن جابر أنه صلى بهم ثمان ركعات ثم أوتر وهذا أصح وقال الحافظ لم أر في شيء من الإشارة أي حديث عائشة بيان عدد صلاته في تلك الليالي
شرح الزرقاني ج: 1 ص: 351
وما رواه ابن أبي شيبة عن ابن عباس كان يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر فإسناده ضعيف وقد عارضه هذا الحديث الصحيح مع كون عائشة أعلم بحال النبي ليلا من غيرها قال الحافظ وظهر لي أن الحكمة في عدم الزيادة على إحدى عشرة ركعة أن التهجد والوتر الليل وفرائض النهار الظهر وهي أربع والعصر وهي أربع والمغرب وهي ثلاث وتر النهار فناسب أن تكون صلاة الليل كصلاة النهار في العدد جملة وتفصيلا وأما مناسبة ثلاثة عشر فبضم صلاة الصبح لكونها نهارية إلى ما بعدها انتهى
Penjelasan
- Seluruh Ulama sepakat bahwa hadits tentang tarawih 20 atau 23 raka’at dla’if.
- Hadits yang shahih menjelaskan witir malam Nabi SAW tidak lebih dari 11 raka’at, baik pada bulan Ramadhan atau malam lainnya.
- Memahami hadits Aisyah tentang shalat witir 11 raka’at tidak termasuk (bukan) shalat tarawih, menyalahi teks hadits tersebut yang menyatakan dengan jelas “bulan Ramadhan”.
- Hadits shahih “MAN QOMA ROMADLONA…” yang dipahami oleh AMY dengan “tidak ada batasan jumlah raka’at tarawih” karena bersifat mutlaq (umum) dan konteksnya shalat tarawih, sebenarnya dengan adanya hadits Aisyah yang juga shahih menjadi qayyid (pembatas) dalam jumlah raka’at shalat malam Ramadhan. Kaidah ushul menyatakan YUHMALUL MUTHLAQ ‘ALAL MUQOYYAD IDZATTAFAQO FIS SABABI WAL HUKMI. (Yang mutlaq ditarik kepada yang muqoyyad jika sama sabab & hukumnya). AMY juga seharusnya melihat teks hadits “MAN QOMA…” yang tidak menyebutkan SHALAT WITIR apalagi TARAWIH yang tidak akan ditemukan dalam teks hadits manapun.